Hari Sabtu kemarin, 20 September 2008, saya mengantar dua anak saya ikut Spelling Bee Competition di English First (EF) Balikpapan. Spelling Bee ini adalah kompetisi biasanya untuk anak-anak dimana kontestan disuruh untuk mengeja huruf dari suatu kata. Anak kami Diah umur 6.5 tahun (kelas 2 SD) dan Chandra umur 7 tahun (kelas 3 SD). Dalam kompetisi ini mereka masuk dalam satu group anak kelas 1 – 3 SD. Alhasil, keduanya masuk sampai babak semifinal sebelum dikalahkan oleh anak-anak dari International School yang tentunya menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar pelajaran di sekolahnya.
Si kecil Diah sempat menangis waktu kalah, dia memang agak sedikit perfeksionis dan menginginkan menang dalam tiap pertandingan. Kadang heran dimana dia mendapat sifat seperti itu karena kami di rumah tidak pernah menilai anak-anak dari nilai sekolah atau juara dari kompetisi. Kami sedikit menghiburnya dengan mengatakan bahwa dia sudah hebat karena berani tampil dan berani menjawab pertanyaan. Selanjutnya kami biarkan dia menenangkan dirinya sendiri, begitulah salah satu cara kami untuk mengasah mental mereka untuk berani menerima kekalahan.
Beberapa saat kemudian Diah sudah mulai tersenyum dan semangat untuk berlatih agar bisa mengikuti kompetisi tahun depan.
Sebuah kompetisi pasti ada menang dan kalah. Tapi kemenangan yang lebih tinggi adalah ketika kita bisa menerima kekalahan atau tetap rendah hati dalam kemenangan. Anak saya sedang belajar arti dari sebuah kemenangan, mungkin pelajaran itu juga untuk kita – orang dewasa – karena seringkali kita belum mengerti arti kemenangan yang hakiki, sering tidak bisa menerima kekalahan atau keberhasilan orang lain dan bertindak tidak lebih dewasa dari anak SD dalam menyikapi kekalahan. Selamat mempelajari arti kemenangan yang hakiki.