Bermain

28 Okt

Life is a game, play it.

Hidup adalah sebuah panggung permainan yang besar dimana setiap orang menjadi pemain sesuai dengan bakat dan panggilan hidupnya. “Jangan serius-serius banget lah” kata teman yang sering mengingatkan saya. Kedengarannya sederhana tetapi nasehat sederhana seperti itu adalah hasil dari mendefinisikan ulang arti hidup sebagai arena bermain. Kita perlu kembali mencontoh cara bermain anak-anak yang selalu dilakukan dengan riang gembira dan tanpa beban.

Seringkali dalam dunia orang dewasa, permainan disederhanakan dalam dikotomi kalah dan menang saja. Akibatnya sebagian besar dari hidup orang dewasa  adalah hidup yang berkompetisi. Beberapa orang mengartikan untuk memenangkan kompetisi dengan selalu mempelajari sesuatu yang terbaru. Beberapa yang lain melakukan pembaharuan sistem untuk tetap berada di depan. Tidak bisa dipungkiri kompetisi memang menjadi pemacu peradaban manusia, tetapi ia juga bisa menjadi sumber keresahan dan kekerasan hidup yang baru. Banyak orang yang putus asa  berpacu dengan derap peradaban yang makin melesat dan banyak pula yang menghalalkan segala cara hanya untuk memenangkan sebuah permainan.

Dalam kondisi hidup yang penuh keresahan dan kehendak yang serba menghasilkan, perlu kita menengok ulang pentingnya manusia untuk bermain. Dalam bermain, sebuah permainan akan menjadi ruang untuk membawakan kualitas terbaik dari setiap pemain. Sebuah ruang merdeka kata seorang teman. Yang menang dan kalah akan bertemu dalam kerendahhatian, yang kalah akan menyalami yang menang dengan kebesaran hati dan akan melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitasnya untuk permainan berikutnya. Tak ada kehendak untuk memenangkan  setiap permainan dengan menghalalkan segala cara karena  dengan cara-cara seperti itu permainan akan kehilangan roh kegembiraannya.

Sadar bahwa manusia adalah mahluk yang bermain, beberapa orang mengajak kembali masyarakat untuk bermain. Salah satu contohnya adalah program Urban Play  http://www.youtube.com/watch?v=YHpxnZcvAzc  yang digagas oleh Irwan Ahmett. Beberapa pemerhati anak banyak yang membuat program bermain untuk anak-anak asongan yang kehilangan waktu bermainnya akibat kondisi ekonomi yang menjepit.

GM pernah dengan sangat baik menyitir puisi dari Rabindranath Tagore dalam sebuah renungannya tentang arti bermain :

‘Di pantai dunia yang tanpa akhir,

Anak-anak bertemu, berseru dan menari.

Mereka bangun rumah dari pasir,

bermain dengan lokan kosong’

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.