If we could see the miracle of a single flower clearly, our whole life would change- Buddha
Dalam dunia kerja yang terus berpacu, terdapat kesalahpahaman yang seringkali kita anggap sebagai sebuah kebenaran, misalnya tentang multitasking. Seringkali sebutan pekerja professional diberikan kepada orang yang dianggap bisa mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus dalam waktu bersamaan atau yang dikenal dengan multitasking. Orang seperti itu sering terlihat mengerjakan laporan bisnis sambil mendengarkan presentasi dalam sebuah meeting, sambil sesekali membalas email dan interupsi chat dari messenger. Benarkah bahwa orang yang multitasking adalah orang yang lebih produktif ?
Studi yang dilakukan di USA menyatakan bahwa jika seseorang mengerjakan beberapa pekerjaan secara simultan dalam periode waktu tertentu, maka fokusnya akan terbagi dan konsentrasinya akan menurun secara drastis dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lainnya yang menyebabkan produktivitas menurun secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya pikiran kita hanya bisa fokus pada suatu hal pada suatu waktu.
“Prefrontal cortec, daerah penting untuk pengolahan informasi, secara optimal dirancang untuk melakukan satu hal pada suatu waktu,” jelas Adam Gazzaley, MD, direktur Neuroscience Imaging Center, Universitas California, San Francisco. Jika dipaksakan untuk bekerja secara multitasking maka hasilnya cenderung tidak akan maksimal.
Dalam salah satu bab dalam buku The Personal MBA oleh Josh Kauffman dijelaskan tentang istilah Monoidealism. Monoidealism dijelaskan sebagai the state of focusing your energy and attention on only one thing, without conflict. Keadaan paling produktif adalah keadaan pada saat kita fokus, mengarahkan seluruh energi dan perhatian kita pada satu subyek dalam kurun waktu tertentu. Untuk berada dalam kondisi tersebut, Josh Kauffman, memberikan beberapa tips sbb :
1. Mengurangi potensi pengalih perhatian. Untuk mencapai kondisi fokus dibutuhkan waktu sekitar 10 s/d 30 menit, sehingga jika dalam periode tersebut terdapat hal-hal yang bisa mengganggu konsentrasi seperti menerima telepon dari teman, menjawab chat atau browsing internet maka proses fokus akan dimulai lagi dari awal. Untuk itu dalam periode tertentu yang ditetapkan,kita bisa melakukan beberapa hal seperti menunda mengecek email, menunda melakukan browsing internet atau mematikan chat messenger untuk mendapatkan kondisi fokus.
2. Mengurangi konflik dalam diri. Fokus dalam pekerjaan memerlukan ketenangan, jika sebelum memulai kerja kita memiliki konflik dalam diri maka disarankan untuk mengenali dan menyelesaikan konflik tersebut terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan.
3. Menjaga fokus dengan menentukan batas waktu pengerjaan suatu pekerjaan dan hanya mengerjakan satu pekerjaan tersebut pada periode yang ditetapkan. Untuk itu diperlukan identifikasi pekerjaan dan penentuan prioritas pekerjaan. Dahulukan untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang memiliki prioritas tinggi.
Dalam kebijaksanaan timur, meditasi digunakan sebagai salah satu cara untuk berada dalam kondisi fokus. Fokus dalam pengertian meditasi memiliki sedikit perbedaan dengan pengertian fokus dalam pengertian umumnya yang diartikan aktivitas otak untuk memikirkan satu obyek tertentu ; dalam meditasi fokus adalah menyadari keberadaan, melewati pikiran. Beberapa teman dalam perjalanan meditasi secara sederhana mengartikan meditasi sebagai hidup dalam kekinian, tidak terganggu oleh aktivitas otak yang selalu meloncat-loncat memikirkan trauma masa lalu atau ketakutan akan masa depan. Seorang guru meditasi, Thich Nhat Hanh, dalam bukunya Mekar Bagai Bunga, Segar Bagai Embun memberikan inspirasi-inspirasi sederhana bagaimana untuk selalu menghadirkan dan menikmati kekinian dalam setiap langkah kehidupan ; saat bangun pagi, saat mandi, saat berpakaian, saat berjalan, saat bekerja hingga saat tidur di malam hari. Latihan-latihan yang diberikan seakan membawa konsep-konsep meditasi ke tataran yang paling sederhana.
“Setiap tindakan yang kita lakukan dengan sadar-penuh dapat membantu kita melepaskan ketegangan pada tubuh dan perasaan, dan membawa penyembuhan, kegembiraan dan kedamaian” jelas Thich Nhat Hanh.
Jadi, ketika dunia Barat kembali menengok kembali Monoidealism dalam konteks produktivitas, sebenarnya dunia Timur sudah berada di depan dengan Mindfullness – untuk selalu hadir dalam kekinian, dalam setiap langkah kehidupan.
“berjalan di muka bumi
Adalah keajaiban!
Setiap langkah sadar-penuh
Mengungkapkan dimensi keutamaan” – Thich Nhat hanh
Tag:meditasi, mindfulness, monoidealism, productivity, produktivitas


numpang menanggapi sedikit
keterampilan multitasking berhubungan dengan gender. Beberapa penelitian dan buku yang saya baca, wanita lebih mampu bekerja dalam banyak hal dalam satu waktu, berbanding terbalik dengan pria. Celakanya adalah klo multitasking terpaksa harus dijalankan oleh seorang Pria yang dalam konstruksi otaknya lebih mengarah kepada fokus atas apa yang dilakukannya.
IMHO….Kerja keras bukan lagi trend, tapi cerdas dalam artian segalanya selesai tepat waktu tanpa memikirkan orientasi proses tapi ke orientasi hasil, tidak bisa dipungkiri tingkah laku multitasking kini berlaku disemua gender, asal dibedakan prioritasnya
Terimakasih Ilham atas sharingnya….hubungan multitasking dan gender pertama saya baca di bukunya John Gray, saya baca juga di beberapa buku tentang cara kerja otak manusia.
Mnrt saya apapun bentuk multitasking oleh siapapun akan berpotensi mengurangi kualitas hidup. Bagaimana perasaan kita jika lawan bicara asyik bermultitasking dg BB-nya? Apakah bisa menyapa orang yang kita temui dengan tulus saat kita berlari mengejar beberapa bayangan simultan dalam kepala kita. Fenomena multitasking kadang seperti tidak terelakkan tetapi kita selalu memiliki pilihan untuk melakukan pilihaan-pilihan tindakan berdasar prioritas dan mengerjakan dengan perhatian yang lebih fokus.
Kerja keras bukanlah hal yang salah, tetapi adalah dasar dari dimensi kerja cerdas dan ikhlas. Tanpa dasar yang baik bangunan kerja kita juga tidak akan berdiri kokoh. Result atau hasil adalah salah satu tolok ukur, tapi hati-hati pada kerja yang hanya berorientasikan hasil tanpa memperhatikan dan menikmati prosesnya.
salam sharing
Bagus sekali tulisannya, dalam banyak referensi ilmu manajemen (bisnis) disaat spt sekarang ini utk tetap survive salah satunya adalah fokus disamping inovasi dan cost leadership.
Kepada teman2 saya tambahkan enjoy, atau yg sering saya istilahkan…”Working with fun”
Terimakasih pak Dani sudah berkunjung ke blog saya…. benar pak dani bahwa fokus sangat diperlukan, dalam tingkat korporasi dlm buku How The Mighty Fall , Jim Collin menyatakan salah satu fase decline adalah karena “undisiplined pursue of more” ……dan saya juga meyakini apa yg pak Dani sampaikan ttg working with fun, menurut saya fun adalah sumber dari kreativitas kerja.
Pak Suta…..bagi ilmu meditasinya dong….gimana menerapkannya sehari2….