“Should I kill myself, or have a cup of coffee?”
Sebuah kalimat dari Albert Camus, seorang filsuf dari Perancis, tersebut dikutip dalam buku Barry Schwartz, The Paradox of Choice, sebagai ungkapan yang mewakili bahwa segala sesuatu dalam hidup ini adalah sebuah pilihan. Tak bisa dipungkiri, setiap hari kita dihadapkan pada berbagai pilihan mulai dari memilih baju untuk dipakai ke tempat kerja, memilih makanan yang tercantum di menu restaurant, memilih peralatan elektronik dan berbagai pilihan lain yang kita lakukan dalam keseharian.Memilih memang sebuah perkara yang rumit dan menjadi semakin rumit dengan hadirnya semakin banyak pilihan yang tersaji di hadapan kita saat ini.
Penelitian yang dilakukan oleh Barry Schwartz membawa pada sebuah pemahaman akan paradox dari memilih. Kenyataan bahwa beberapa pilihan itu baik tidaklah serta-merta berarti lebih banyak pilihan itu lebih baik. Kewaspadaan diri sangat diperlukan dalam situasi pilihan yang berlebihan.
“melakukan penyaringan terhadap informasi yang berlebih adalah salah satu fungsi kesadaran manusia, kita tidak akan bisa hidup dengan bahagia jika perhatian kita selalu teralihkan dari segala sesuatu menggoda indera kita ” kata Barry Schwartz.
Pilihan yang berlebihan dapat membuat kita mempertanyakan keputusan bahkan sebelum kita memutuskan, membuat kita memiliki harapan yang tidak realistis dan bisa membuat kita menyalahkan diri sendiri untuk setiap pilihan yang kita buat. Dalam jangka panjang, semua hal ini dapat mengarah pada kecemasan, stres berkepanjangan, dan ketidakmampuan dalam pengambilan keputusan.
Pilihan yang berlebihan memiliki dampak :
- membuat proses memilih menjadi susah
- bisa mengakibatkan untuk tidak memilih sama sekali
- mengakibatkan tingkat kepuasan menurun
Memilih jika tidak dilakukan dengan baik bisa mengakibatkan efek emosional dan psikologis yang kurang baik.
Untuk bisa melakukan pilihan dengan baik, kita perlu membuat filter-filter diri yang lebih baik dari berbagai pilihan. Filter ini akan terbentuk dengan baik apabila kita memiliki keinginan atau tujuan yang jelas. Selanjutnya filter ini akan menyaring hanya beberapa pilihan terbaik yang mendukung tujuan yang sudah kita tetapkan sebagai dasar kita mengambil keputusan memilih. Yang juga menarik untuk kita cermati adalah situasi psikologis setelah kita melakukan proses memilih, Setelah memilih akan ada konsekuensi dan nilai kenikmatan yang berubah yang harus kita terima tanpa membanding-bandingkan dengan pilihan-pilihan lain yang tidak kita pilih sebelumnya.
Seorang guru pernah berpesan kepada saya bahwa disamping tujuan yang jelas, kemampuan kita untuk memilah antara kebutuhan dan keinginan akan memberikan kemampuan untuk memilih dengan lebih baik. Dalam kondisi tersebut, setiap pilihan yang kita buat akan merupakan pilihan yang kita lakukan secara sadar, tanpa didorong oleh nafsu dan ego. Dalam pilihan yang didasari kesadaran, pilihan akan selaras dengan alam dan kebahagiaan adalah hasil yang pasti.
Memilih sepertinya adalah sebuah keunggulan manusia dari sebatang pohon pinus atau seekor rusa yang hidup di hutan, dan mungkin di situ juga terletak awal kompleksitas dan penderitaan manusia.
Tag:choice, memilih, paradox, paradox of choice


Memilih itu sendiri adalah proses pembelajaran, pendewasaan..
suka dengan tulisan ini..tapi kayaknya masih sama ‘penyakit’ kita..di tanda baca..hehehe
AYO TERUS MENULIS !!!!